Background

SENJA YANG TERBELAH



SORE di bulan nopember yang masih menyisakan kepulan mendung yang selalu meneteskan hujan, menjadi saksi saat seorang laki-laki berjalan gontai hingga hilang di ujung jalan.. Selalu ada bayangan itu, terutama saat menikmati nyanyian dedaunan di taman tengah gunung, di alam picung yang menjadi tempat persinggahan di sebuah bangku kayu panjang. Di seberang tampak pertigaan jalan yang selalu sepi dari lintasan kendaraan dan orang. Dulunya di situ ada hutan belantara, tapi seperti tempat-tempat lainnya telah menjelma jadi pemukiman dan pertokoan, demi kemajuan jaman yang tak pernah peduli akan sebuah kisah dan sejarah.

”Jika jantungmu memang terbuat dari lempengan plastik, masa tidak ada sedikitpun sisa untuk menangkap getar akan kesungguhanku. Apakah juga telah kau ganti naluri kewanitaanmu hingga tak mampu lagi melihat serabut ketulusanku?”. Itu kata-kata terakhir yang kuucapkan dengan pelan, dalam getar suara yang membuatnya terpaku dan tak tahu akan menyahut dengan kalimat apa. dalam mataku ini dengan alis mataku yang tebal dan dahi yang berkerut memantulkan kesungguhan, ketulusan dan juga lukaku.

Sekian lama berlalu, tapi kata-kata, pandangan mata ku terus mengikuti langkahku. Menjadi bayangan hidup ketika aku tidak ada dan malam-malam di tengah alunan lagu ciptaanku. aku tahu apa yang terjadi padaku. aku kenal apa yang mengganggu perasaanku dengan hebatnya. Perasaan yang dicobanya untuk lenyap, tapi tak juga bisa karena telah menjelma menjadi sesuatu yang entah, yang terasa senyap. Selama itu pula, aku yang berusaha bekerja keras menggapai impian seolah menghilang ditelan bumi. Sesuatu yang awalnya tak berarti apapun hingga suatu saat. tapi lalu menjelma jadi suatu kehilangan yang makin lama terus meruang dalam hati.

Sebulan sudah telah lewat. hatiku pergi jauh, untuk berusaha melupakan saat mencoba meraih mimpi-mimpi. Jadilah jalanan di seputar Gywned road dengan pohon beringin rindang itu menjadi saksi. sekali lagi membuat aku merasa heran hingga terbawa dalam lamunanku, yang membuatku baru bisa memejamkan mataku hingga larut malam. Sesuatu yang aneh bagi orang yang menikmati indahnya malam di tengah kota. Tapi tidak bagiku. aku menikmati semua itu, karena memberikan nuansa yang berlawanan dibanding saat dia menikmati malam lain.

Aku adalah air mata: air mata kesedihan, air mata kebahagiaan,.. namun, Aku telah cukup untuk cinta itu sendiri. cinta tak harus memiliki meski air mata kebahagiaan mengawali. Namun air mata kesedihanlah yang mengakhiri, jodoh hanyalah sepenggal omong kosong, fiktif tanpa kebenaran, halusinasi belaka,.

- - - ooo - -- -

"Aku menyayangimu bukan karena apa yang ada pada dirimu, tetapi karera sesuatu yang kurasakan jika aku bersamamu. Aku menyayangimu bukan karena apa yang telah kau perbuat, tetapi apa yang selama ini telah begitu banyak yang kau lakukan untukku. Aku menyayangimu karena kamu telah berbuat begitu banyak, melebihi suatu keyakinan yang dapat membuatku menjadi baik dan melebihi nasib yang telah membahagiakanku. Kau melakukannya tanpa menyentuhnya, tanpa kata, tanpa suatu tanda. Kau melakukannya dengan menjadi dirimu sendiri,...."

Categories: Share

Leave a Reply