Background

PEMAKAMAN RASA



Kata orang, malam sering memberi ketenangan. Dalam malam, banyak hal bisa dikerjakan. Menulis tanpa berisik suara anak-anak, jeritan atau tangisan di sinetron televisi atau mengais kenangan dari kediaman kegelapan. tapi malam buatku adalah menulis. Menuliskan kenangan yang selalu ingin keluar menyeruak, dan selalu aku tak pernah diberitahu kapan dia akan keluar. Herannya, kenangan yang hadir seringkali menyakitkan, pahit dan kadang membuatku dikelilingi bayang-bayang.

Tapi aku selalu menerima kehadirannya. Bagiku, kenangan apapun adalah cermin yang begitu bening, hingga aku bisa melihat pori-pori di wajah, uban yang tersembunyi di kepala hingga genangan air mata yang akhirnya bisa sempat tumpah. mungkin bagi yang lain, malam menjadi menakutkan. Kekasih yang tak hadir di sampingnya. Ranjang yang dingin tanpa isteri. Kesunyian yang mengerikan. Kegelapan tanpa penerangan. Hingga ada yang membencinya seperti kusta di depan mata. Tapi ini tidak buatku, yang menjadikan malam sebagai teman.

Seperti malam ini, aku ingin menulis sesuatu yang berbeda dengan sebelumnya. Bukan akan kenangan yang berdatangan. Bukan pula kisah romantis atau tragedi yang berakhir miris. Ini sesuatu yang baru terjadi, dan sedang kusiapkan perangkatnya untuk lebih mengerti. Kali ini aku tak membiarkan gelap menemani, karena aku butuh lampu. Setidaknya dari sebatang lilin dan nyala ujung rokokku (akhirnya aku merokok juga untuk beberapa saat), hingga asapnya kubiarkan saja membentuk wajah-wajah, huruf dan angka-angka sebagai teman di malam renta.

Mungkin karena itulah aku bisa menulis dengan lebih jeli. Padahal ketika kata dimulai, hanya ada sunyi yang begitu menggigilkan hati. Satu kata berarti sepi. Satu kalimat menjadi perih. tapi karena itulah aku menjadi percaya bahwa ketakutan yang menjelma dalam luka membutakan ini memang aku perlukan. Agar aku tetap sadar, tak perlu aku menutup semua tirai hati hanya untuk mengeja semua sepi.

Entah apa yang akan orang-orang katakan. Aku menyebutnya pemakaman rasa. Aku sedang mempersiapkan pemakaman dengan upacara yang kukarang sendiri, kutentukan sendiri siapa yang akan hadir dan membawa kembang aneka rupa. tidak ada mayat yang dimandikan, didoakan setelah diberi kain kafan lalu diusung ke dalam keranda untuk dimakamkan. Karena rasa yang telah mati, tak bisa diberikan ayat-ayat atau simpati.

------------------------------

Kau datang dikala hatiku tidak siap. Takut untuk mencoba… Takut untuk… Takut… Terkadang aku berpikir, Apakah kau diluar jangkauan tangan dan hati ini, atau hanya akulah yang tak mampu menjangkaumu? Apakah aku harus berpaling, Berjalan sendiri, menjauh darimu, Atau haruskah kupersiapkan lagi hati ini untukmu? Waktu telah berlalu. dapat kutemukan lagi hasrat untuk menggapaimu. Tangan inipun lagi berusaha merangkulmu.

hatiku enggan melepaskanmu, kini kuberanikan diriku, Untuk ucapkan ;

“ Asyhadu an laa illha illallah,.
wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluh”.
“Asyhadu an laa illha illallah,.
wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluh”..
“Asyhadu an laa illha illallah,.
wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluh”.
Sekali lagi,…
“Asyhadu an laa illha illallah,.
wa asyhadu anna Muhammadan addyhu wa rasuluh”..

Categories: Share

Leave a Reply