Background

KATA TERAKHIR




Dari Hati... Aku terjatuh.. bukan seperti selembar daun kering… aku jatuh terhempas.. melayang semakin merendah.. dan kemudian terhempas menemui tanah-tanah retak…. Bukan juga sekarang ini seperti ilalang liar yang tetap mencoba pesat menjulang tinggi dibelantara savana. Tidak juga seperti seekor rajawali atau seekor merpati yang coba terbang tinggi mengepakan sayap-sayapnya menuju horizon, menjumpai siluet-siluet jingga senjanya.

Aku ternyata hanya seorang lemah, yang terbelenggu oleh pesimisme dan ketidak berdayaan,. Terlalu lelah untuk menggapai mimpi-mimpi. Terlalu lemah untuk bangkit, dan kemudian berlari kembali. Terbelenggu dalam hampa,.. atau obsesi-obsesi yang terlalu tinggi. Bila harap terlalu tinggi disematkan,.. dan jari-jemari terlalu lemah untuk menggapainya,.. mengapa harus tetap diupayakan?. Seandainya saja mampu pun aku akan menguras energi dan fikir. Sedangkan arti hidup bukan hanya mencapai asa-asa itu. Mungkin bukan dari jalan itu, jalan-jalan itu bukan bagianku, seberapa kerasnya aku berharap dan bermimpi.

Aku masih ingat tentang even-even tak terduga yang menghampiri hari-hariku, dan bila kemudian dirunut, ada jaring emas yang terhubung diantara keduanya. Dan mimpimu masih tertemui. Namun aku kembali ke lembah kali ini,.. dan kemudian tengadah ke atas bukit sana. Bukit itu mengerucut, semakin keatas semakin menyempit volum ruangnya, dan berakhir kemudian disatu titik. Aku terjatuh dari satu sisi, ah.. bukankah masih ada sisi yang lain, mungkin jalan itu bukan untuk seseorang seperti aku, atau aku yang enggan berusaha melalui jalan itu. Namun aku enggan kembali,.. entah akankah aku berani, atau tidak. Namun haruskah aku terdiam saja di lembah ini, mungkin iya, mungkin untuk beberapa saat. Tidak untuk mengumpulkan sebuah keberanian,.. namun hanya mencoba mencerna keawamanku. Bila tujuan itu ada dibukit sana bila tujuannya menggapai puncak bila… Ups.. aku berhenti menengadah ke puncak. Ah mungkin aku dapat melalui jalan kecil disana,.. jika terus di tuju bukankah menuju puncak juga,.. mungkin tidak terlalu terjal, mungkin tidak perlu banyak membawa alat-alat. Namun… ketika langkah tetap dapat ditatih mengapa tidak..

Satu perahu akan terbakar, mulai senja ini,.. jika jalanku memang ada disana,.. kenapa juga aku harus membebankan diri atas idealisme yang aku sematkan dalam obsesi obsesiku. Jika tak mampu menjadi jalan raya, jadilah saja jalan setapak, namun jalan yang mampu membawa orang ke mata air. Jadilah saja diriku sendiri, sebaik-baik diriku sendiri. Satu perahu akan terbakar apapun yang terjadi… kerjakanlah saja dari hati,.. dan aku akan menemui indah,.. kerjakanlah saja dengan hati… Tinggalkanlah pahit dan cuka, pergilah ke manis.

Jadikanlah aku cinta,.. Jadikanlah aku hidup,.. Jadikanlah aku harap yang pasti.. Aku hanyut dalam asa yang terhenti.. Aku lelah dalam pencarian. Aku berhenti berharap.. Aku berhenti bermimpi.. Mengapa harus ada.. Sebuah kekecewaan karena perbedaan..

Suatu pengingkaran karena perbedaan.. Seandainya saja ada... Mimpi yang hilang karena harus hilang... Maka kecewa yang hadir adalah sebuah kepastian yang melegakan... Lalu ketika aku merintis jalan. yang lebih sederhana... haruskah aku peduli dengan apa kata orang lain...?? Sedangkan ini hidup dan jalanku..

Maka ketika aku liar,. Biarlah aku menjadi liar... Ketika aku mendobrak pranata-pranta.. biarlah aku luruh.... Aku ingin sesekali pembangkanganku terkspresi.. tidak hanya terpendam dalam hati. dalam dua pilihan baik di atas ketak baikan.. Aku luruh, lelah, kecewa.. Ada hati yang menyempit.. terpaku pada kebekuan.. kehampaan,... Ingin kuteriak,.. ingin kulepas semua.. ingin kulepas bebas semuanya... semua belenggu yang menyekat... sudut-sudut ruang hati.. aku ingin lepas bebas dari semuanya... aku ingin jernih lagi... jernih lagi.. dari semua paradigma..

Categories: Share

Leave a Reply